Header Ads Widget

Tantangan Muhammadiyah dalam menerapkan Pendekatan Irfani pada Aplikasi Ekonomi Digital pada Teknologi Blockchain


Rista Choirun Nisaq
Mahasiswa Magister Prodi Ilmu Hukum, Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang , (Foto : Istimewa)

Blockchain adalah sistem pencatatan informasi dengan cara yang membuat sulit atau tidak mungkin untuk mengubah, meretas, atau menipu sistem. Blockchain pada dasarnya adalah buku besar transaksi digital yang diduplikasi dan didistribusikan di seluruh jaringan sistem komputer di blockchain. Teknologi Blockchain dapat digunakan untuk membuat sistem buku besar permanen, publik, transparan untuk mengumpulkan data penjualan, melacak penggunaan digital, dan pembayaran kepada pembuat konten, seperti pengguna nirkabel atau musisi.Penerapan Blockchain di Indoensia memiliki tantangan umum tersendiri, bukan di teknologinya namun di skema bisnis dan juga bisnis proses eksisting yang mungkin menjadi berubah karena penggunaan teknologi blockchain. Perlu adanya edukasi tentang blockchain yang diperlukan dengan dukungan dan kerjasama mulai dari pembuat regulator, pelaku usaha, dan lainnya agar membentuk ekosistem blockchain yang kolaboratif dan mengajak semua pihak untuk membuat "leap frog" di Indonesia untuk pemanfaatan blockchain.

Salah satu yang akan cepat mengadopsi blockchain adalah sistem identitas digital yang saat ini masih sangat tersentralisasi, dengan  kepemilikan identitas bukan pada individu, namun pada penguasa sistem yaitu stakeholder seperti pemerintah atau platform aplikasi besar seperti Facebook dan Google. Dan data identitas itulah yang di-monetize oleh oleh mereka, dengan menjual data ke pihak pengiklan. Namun ada pemilikran lain dalam penerapan platform blockchain, pencatatan identitas akan terdesentralisasi, dan kepemilikannya akan ada di tangan subyeknya. Dengan ini, sebagai pemilik identitas kita bahkan bisa mendapatkan financial profit dari “menjual” identitas kita, yang bukan sekedar nama, tapi juga perilaku belanja misalnya, kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Di Indonesia juga memiliki komunitas nirlaba dengan nama Indonesia Blockchain Society dimana lembaga nirlaba ini nantinya akan berperan secara aktif melakukan kolaborasi, advokasi dan edukasi dengan seluruh stakeholder ekonomi digital seperti pemerintah, komunitas developer, kalangan bisnis serta masyarakat pada umumnya untuk mengembangkan use case penerapan teknologi berbasis blockchain untuk bersama mengangkat harkat hidup dan kodrat bangsa dalam membangun kemandirian ekonomi digital.

Ekonomi digital dengan segala sistem teknologi dalam pandangan Muhammdiyah yang Pro akan Science juga dapat mengkaji hal ini, sebab jika mengingat Kisah Kiai Dahlan meluruskan arah kiblat merupakan gambaran bagaimana cara pandang Muhamadiyah memahami syariat senantiasa melalui pendekatan rasional. Keterlibatan aktif dalam mengatasi pelurusan arah kiblat ini merupakan konsekuensi logis dari paham Muhammadiyah yang menganut Islam rasional dan pro-sains. Kiai Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah itu melibatkan sains ketika mengoreksi arah kiblat. Jadi, arah kiblatnya tidak ke barat penuh namun agak miring. Di awal-awal ini heboh, kemudian dilakukan koreksi dan semuanya menerima. Contoh lain Muhammadiyah mengedepankan pendekatan sains dan teknologi untuk semakin menciptakan akurasi yang presisi dalam terapan syariat dan ide menyusun Kalender Islam Global serta penentuan jadwal salat. Dalam hal ini Muhammdiyah merupakan integrasi hasil dari pendekatan irfani.

Untuk menuju peran penting dalam dunia ekonomi digital dan sebelum teknologi blockchain benar benar masuk dalam tatanan ekonomi digital secara menyeluruh di indonesia Muhammadiyah perlu melakukan gagasan idenya sebagai digital dusruptor yaitu melakukan kegiatan transformasil digital yang endingnya mengantarkan persyarikatan Muhammadiyah  - Aisyiyah mencapai sisi baik dalam pemanfatan teknologi Blockchain. Muhammadiyah harus juga harus melakukan berbagai penguatan literasi dan budaya digital di semua tingkatan dari pusat hingga ranting. Maka akan terbangun ekosistem dengan meningkatkan potensi digital yang dimiliki persyarikatan baik dari sisi sumber daya manusia, infrastruktur teknologi-informasi, maupun finansial.