Header Ads Widget

Diskursus Pembelajaran Daring dan Ketuntasan Pembelajaran

 
Yudho Setyo Nugroho, M.Pd, Dosen 
STT STIKMA Internasional Malang

Saat ini seluruh dunia sedang merasakan bencana yang bisa dibilang bencana global. Awal maret 2020 kita semua kedatangan tamu yg tak diduga yaitu corona atau bahasa lainnya covid-19. Banyak sektor yang terkena dampak dari pandemi ini,baik pedagang, pegawai swasta serta dunia pendidikan pun ikut merasakannya.
Bahkan kegiatan pembelajaran yang seharusnya dilaksanakan secara tatap muka di sekolah/ kampus harus terhenti sesaat dan pada akhirnya mengharuskan tenaga pengajar serta peserta didik melaksanakan kegiatan sekolah online.
Banyak pro dan kontra sih dalam hal ini, dikarenakan dimana kegiatan pembelajaran yang bersifat online ini terkadang mengakibatkan sebagian peserta didik menyepelekan. Seperti saat sekolah online ada beberapa yang masih disambi bermain. Bahkan lebih parahnya lagi para peserta didik bisa jadi mentalnya tidak akan terbentuk layaknya siswa/ mahasiswa pada umumnya. Hal ini dikarenakan masing-masing peserta didik ini tidak saling mengenal satu sama lainnya secara langsung.
Selain itu juga kendala dari gadget harus digunakan, okelah jika keluarga peserta didik tersebut berasal dari keluarga yang mampu, namun kalau sebaliknya ? Belum lagi penggunaan paket data yang mengharuskan orang tua peserta didik harus membeli demi keberlangsungan kegiatan sekolah online tersebut.
Memang beberapa saat yang lalu ada bantuan dari pemerintah berupa pulsa atau uang tunai yang diberikan kepada para orangtua peserta didik dan guru/ dosen. Namun jika pandemi ini terus-terusan ada, yang ada bisa-bisa kegiatan pembelajaran akan berjalan dengan mengandalkan teknologi saja alias online.
Memang gak salah sih, cara online ini diterapkan. Tapi menurut saya pribadi kegiatan pembelajaran tatap muka lebih kuat dan menyentuh dibandingkan dengan online karena ketika bertatap muka langsung biasanya apa yang disampaikan dapat terasa feelnya.
Belum lagi ada beberapa sekolah yang masih menerapkan biaya SPP penuh, hal ini juga menjadi beban bagi para orangtua yang pekerjaannya sebagai wiraswasta kayak berdagang atau yang bekerja di perusahaan swasta. Banyak para orangtua ini yang gajinya terpotong karena kebijakan perusahaan disaat pandemi ini. Belum lagi mereka yang kerjanya dagang di malam hari, karena beberapa saat yang lalu pemerintah menerapkan protocol kesehatan yang membatasi pedagang untuk berjualan hanya sampai pukul 07:00. Halooo pemerintah yang katanya terhormat dan minta untuk dihormati, emangnya covid keluarnya hanya malam hari. Enggak juga kan ?
Nah sekarang pandangan dari pendidiknya, beberapa bulan yang lalu ada kawan saya bercerita ke saya mengenai proses pembelajaran yang menggunakan sistem online. Dimana kawan saya ini berkeluh kesah mengenai susahnya mengawasi siswa yang mengikuti kegiatan sekolah online, belum lagi faktor smartphone yang digunakan sampai kepenuhan memori karena banyaknya siswa yang mengumpulkan tugas. Namun untuk saat ini permasalahan tersebut dapat teratasi seiring berjalannya waktu.
Ya diharapkan untuk kedepannya pandemi ini segera berakhir dan semua dapat berjalan secara normal seperti sedia kala. Untuk semua teman-teman yang sedang berjuang baik dari semua kalangan, semoga kalian semua beserta keluarga kalian dapat menjalani hari-hari dengan baik dan tetap dilindungi oleh TUHAN dan TETAP SEMANGAT meskipun ditengah pandemi covid-19.